Semburat cakrawala memerah,
tampak berbeda langit kala itu.
Awan menghitam,
riuh rendah sorak sorai bersatu melawan tirani tikus
berdasi.
Gemeletuk gigi
tanda amarah yang memuncak.
Matanya tajam
menghujam.
Telapak tangan
dingin itu penuh peluh,
sejak dari tadi menggenggam senjata
bertenagakan tinta.
Berlari kemana
angin membawa cerita untuknya.
Bercerita tapi
bukan dongeng buaian sebelum tidur.
Melainkan,
sebuah pesan Ibu Pertiwi,
amanah yang
harus segera disampaikan secara terang, tidak syarat kepentingan penguasa.
Bukan materi
yang diperjuangkannya, melainkan aspirasi.
Nyawa ganjarannya,
tetapi sekali lagi Ia tidak peduli.
Pantang surut
selangkah.
Biarlah tubuh
penuh lebam, kebenaran harus ditegakkan.
0 komentar:
Posting Komentar